sepertinya mereka tak tega melihatku menangis. air mataku tak hentinya mengalir. gelang couple yg diberikan Dia hampir saja aku buang, teman2ku menyuruhku untuk merusak gelang itu, tapi aku tak bisa karna aku hanya ingin menghargai pemberiannya. gelang itu kulepas lalu aku masukkan kedalam tasku.
dengan penuh air mata, aku akhirnya pulang dengan mata yang sedikit basah. setiba di rumah, aku langsung cepat2 mengusap air mata hingga tak kelihatan lagi. aku berjalan menuju kamar sambil memikirkan hal yang tadi di sekolah. "dia lupa sama janjinya" kataku dalam hati dan tak sadar airmataku jatuh lagi. aku cepat2 menghapusnya. ternyata ibuku melihatku. "Echa knapa? kok cemberut kaya abis diputusin cowoknya" kata ibu. aku terkejut, tanpa ku beritahu ibu sudah ngomong begitu. aku terdiam sejenak. "tau aja ma" jawabku. akupun berlalu dari tempat itu.
saat aku sedang makan malam bersama keluarga, aku hanya bengong, diam, tak berbicara satu katapun. malam itu, aku tak makan nasi sebijipun. walaupun sebenernya laper banget tapi karna ga nafsu ya jadi ga bisa masuk. aku ga berlama2 di situ. dengan cepat aku pergi ke kamar. ibu dan bapak memanggilku. "echa, ga usah terlalu mikirin cowoknya, bukan cuma dia aja kok, lagian echakan masih SMP, lebih baik belajar yg rajin dulu, tunjukin prestasi yang bagus" kata bapak. "iya cha, mama juga pernah ngerasain kaya echa, mama kan pernah muda juga, laki2 bukan cuma dia doang !" sambut ibu.
hari2 ku terasa sepi sekali. tak ada sms dari dia yang selalu memenuhi kotak masukku. keesokan harinya aku berbaris untuk upacara penaikan bendera. aku berbaris di barisan tengah yg sedikit ke belakang. teman2nya menanyakan tentang gelang couple yg Dia berikan kepadaku. aku hanya menjawab "ga tau". di belakangku ada nisaa', sebenarnya aku ga mau sekolah hari itu bukan ga mau ngeliat Dia, hanya tak bisa melihat senyumnya yang bisa menggagalkan niatku untuk lupain Dia. karna nisaa' ada di belakang, jadi dia juga bisa mendengarkan perkataan Dia dan teman2nya yg sedang membicarakan sesuatu. aku tak bisa mendengar mereka. nisaa yg mendengarnya akhirnya menceritakan semuanya. kata2 yang cukup sederhana tapi menusuk ke hati. tapi sudahlah, aku tak terlalu menanggapinya.
bertemu di kelas setiap hari, menatap wajahnya, itu semua yang membuatku susah untuk melupakan Dia. sejak kejadian itu, Dia tak pernah menghubungiku lagi. aku merasakan kesepian. dengan sedikit nekat, aku akhirnya memberanikan diri untuk sms Dia duluan. "bismillah, ayo tessa kamu bisa" aku berdoa dalam hati. akhirnya dia menjawab smsku. aku memberanikan diri untuk jujur "smenjak kita putus, ga ada lagi yg peduli sama saya, hape kosong" kataku. Dengab singkat Dia menjawab "Sama". yatuhaan, walaupun hanya satu kata saja, hati ini legaaa rasanya. akhirnya Dia tau gimana perasaanku sebenarnya. semenjak itu, kami sering saling kontak lagi.
masih ingat dengan wanita yang pernah kami permasalahkan di chapter yg kedua? ya, ternyata Dia mencoba menyatakan perasaannya kepada wanita tersebut. tapi, wanita itu menolaknya dengan alasan sudah punya pacar. wanita itu menceritakan semua kejadian itu padaku. "Cha, lima hari yang lalu, Dia nembak saya, trus saya bilang besok dah saya jawab" katanya. "trus,trus gimana? kamu terima ga?" kataku. "naah, setelah Dia nembak saya tu, saya nerima orang lain, jadi ada alasan saya nolak Dia". "ahh kamu, kok di tolak, terima aja. bodo banget sih" kataku. "haha, ngga cha, saya tau kok kamu masih sayang sama dia" katanya. "ngga kok udah ngga udah moving on". "ngga usah sok ja'im cha, saya tau kok". katanya sambil sedikit tertawa padaku. memang sedikit sakit waktu dia cerita begitu.
sepulangku sekolah, aku berlari menuju kamar. di kamar aku menangis sejadi-jadinya. ku tutup pintu kamar agar tak satu orangpun yang tau aku sedang menangis. "ternyata Dia memang ga sayang lagi sama saya, Dia udah lupain saya" kataku dalam hati. tiba2 "Kriiiiingg" hpku berbunyi.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar